Apa yang akan Anda lakukan saat orang berbuat salah terhadap diri Anda? Opsinya hanya dua, memikirkan cara membalas kesalahan orang itu atau memaafkan.
Pilihan pertama ini sering muncul dalam benak kita. Celakanya, pilihan ini selalu berujung pada upaya kita yang lebih untuk membalas rasa sakit hati. Kalau sampai dijalankan, ugh, mengerikan. Nggak percaya? Mari saya arahkan pada contohnya.
Mari coba tengok pertandingan sepakbola di Indonesia. Saat ada keputusan wasit yang membuat suatu tim kalah, pendukung tim tersebut seringkali menerobos lapangan bahkan berbuat ricuh atau mengejar wasit tersebut. Kadang-kadang, pendukung tim berbuat onar di luar lapangan pertandingan dengan merusak kendaraan, tawuran, dan sebagainya. Padahal apa yang dilakukan wasit tersebut hanya membuat suatu keputusan dalam suatu pertandingan, yang jelas-jelas ada menang dan ada kalah. Dapat dilihat, apa yang dilakukan pendukung tim lebih dahsyat ketimbang yang telah dilakukan oleh wasit di lapangan.
Anda tidak setuju? Silahkan. Ayo bayangkan lagi saat Anda sedang mengendarai kendaraan dan tiba-tiba ada kendaraan lain yang menyerempet. Apa yang akan Anda lakukan?
. Masih banyak lagi kasus/contoh yang lebih mengerikan dari sekadar pertandingan sepakbola ataupun mobil terserempet.
Nah, ada pilihan yang kedua. Pilihan ini adalah memaafkan kesalahan orang yang telah berbuat salah terhadap diri kita. Berat? Ya, sangat berat! Akan tetapi, hal ini bisa menjadi ringan saat kita terbiasa memaafkan kesalahan orang. Untuk bisa sampai ke tahapan memaafkan, perlu proses, nggak bisa diperoleh dalam waktu yang sejenak.
Satu kisah yang saya dapatkan dari Pak Charles, salah seorang asisten mentor di USB adalah proses beliau memaafkan suatu perusahaan/toko yang pernah memberhentikan dirinya dari bekerja di sana tanpa alasan yang jelas padahal beliau adalah pegawai tetap. Proses memaafkan ini beliau lakukan dalam waktu yang cukup lama. Berhubung setiap pekan beliau melewati toko tersebut untuk pergi ke suatu tempat, ingatan akan pemberhentian tersebut muncul. Awalnya memang sulit karena rasa sakit akan pemberhentian tersebut muncul, namun, beliau mencoba memaafkan dan terus memaafkan hingga akhirnya rasa sakit tersebut hilang.
Lalu, apakah tanda bahwa diri kita sudah memaafkan seseorang yang melakukan kesalahan terhadap kita? Saat diri kita teringat kejadian itu, diri kita sudah tidak merasa sakit lagi, atau bahkan menjadikannya kenangan lucu, manis, menarik, dsb.
Pertanyaan yang mungkin muncul dalam benak Anda adalah: kalau seseorang melakukan kesalahan terus menerus terhadap diri kita, apa yang harus dilakukan? Apakah diam saja? Bukannya hal tersebut akan membuat diri kita semakin diinjak-injak?
Jawabannya begini: Nyatakan ketidaksetujuan atau ketidaksukaan Anda atas perilaku tersebut. Bila masih berlanjut, ajak kawan Anda yang merasakan hal serupa dan lakukan pernyataan tersebut kembali. Bila masih berlanjut, umumkan di hadapan kawan-kawan Anda perilaku yang tidak Anda sukai dari seseorang yang melakukan kesalahan tersebut. Bila masih berlanjut, jaga jarak deh
.
